Abstract
Kenakalan remaja di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang serius dari semua pihak, karena banyaknya keterlibatan remaja dalam perilaku negatif, yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah remaja berada di Lembaga Pemasyarakatan. Kurangnya adaptasi dengan lingkungan baru menjadi pemicu narapidana remaja mengalami stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan tingkat stres warga binaan remaja di Rumah Tahanan Kelas II B Mamuju. Penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif sederhana. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42). Sampel berjumlah 78 orang yang diambil secara total sampling. Analisis data mengunakan analisis univariat. Berdasarkan klasifikasi umur warga binaan remaja terbanyak berumur 18-24 tahun yang digolongkan pada remaja akhir. Pendidikan terakhir yang terbanyak adalah SMA 48 (61,5%). Pekerjaan terakhir yang terbanyak adalah wiraswasta 40 (51,3%). Jenis kasus yang terbanyak kasus narkotika 33 (42,3%). Lama vonis yang terbanyak lebih dari 1 tahun 47 (60,3%). Tingkat stres paling banyak stres ringan 47 (59%). Warga binaan remaja terbanyak berumur 18-24 tahun (remaja akhir), berpendidikan SMA, pekerjaan wiraswasta, kasus kejahatan narkotika, lama vonis lebih dari 1 tahun dan tingkat stres ringan. Perlu ditindaklanjuti dengan pelatihan manajemen stres agar remaja dapat mengontrol atau mengelola stres sehingga dapat beradaptasi dengan kondisi rumah tahanan.