Abstract


Narapidana atau warga binaan, selama di penjara, seringkali mengalami gangguan interaksi sosial seperti menarik diri atau malah sering membuat ulah karena merasa stres. Para warga binaan ini mendapatkan pembinaan mental baik secara individu maupun kelompok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kemampuan interaksi sosial warga binaan  antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Analisis univariat pada penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi  kemampuan interkasi sosial warga binaan  .  Analisis bivariat dilakukan dengan metoda dependent sample t-test. Populasi adalah wanita yang sedang dibina Lembaga Permasyarakatan Wanita Kelas IIA, Bandar Lampung, di tahun 2018 di Bandar Lampung,  respondennya adalah warga binaan dengan kasus narkoba dan kasus pidana umum yang dipilih dengan kriteria inklusi. Hasil penelitian yang menunjukkan ada perbedaan yang bermakna kemampuan interaksi sosial  responden antara sebelum dan sesudah intervensi terapi kelompok di mana kedua kelompok mengalami peningkatan interaksi sosial. Kesimpulannya adalah terapi kelompok sangat berguna untuk memulihkan kemampuan interaksi sosial warga binaan di lembaga permasyarakatan dan sebaiknya kegiatan ini terus dilakukan oleh lembaga permasyarakatan. 


Keywords


Interaksi sosial dan terapi kelompok.